Sebuah Refleksi Diri

Wednesday, August 13, 2008

And The Winner Is...

Tanggal 30 Juli kemarin saya bersama temen-temen yang lain (Baso, Danar, Dhata, Ragil, Johan, Bayu, dan Wisnu) janjian untuk ketemuan di EX jakarta. Kebetulan Bayu lagi liburan di Indonesia beberapa hari dan Ragil juga baru dateng dari Semarang. Rencananya di sana mau main bowling. Sebelum bowling, karena perut sudah laper kami makan terlebih dahulu. Di tempat makan terjadi "pembantaian". Tapi untungnya yang kena cuma Baso dan Bayu. Yang lainnya nggak jadi "dibantai" karena waktunya udah kesorean. Sudah nggak sabar ingin main bowling sih sebenernya. Ini salah satu foto di tempat makan. Sorry, fotonya Bayu nggak ada soalnya dia yang jadi fotografernya :p

Karena orangnya ada delapan, kami menyewa 2 line. Masing - masing line 4 orang. Yang satu line dengan saya adalah Johan, Baso, dan Danar. Ini adalah skor akhirnya:

Tadinya nggak mau masang foto ini, tapi berhubung ada yang rikues jadinya saya upload juga *hehehe. And the winner is...

Labels:

Monday, May 14, 2007

Tamasya ke Ciwidey

Rekreasi sambil menikmati keindahan alam merupakan salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan. Ketika teman saya mengajak untuk rekresi ke Ciwidey saya pun langsung meng-iya-kan ajakan teman saya itu karena sejak dulu saya ingin sekali rekreasi ke daerah sekitar Ciwidey. Rencananya sangat mendadak sekali, satu hari sebelum keberangkatan. Meskipun rencananya sangat mendadak, namun terlaksana juga karena masing-masing mempunyai keinginan yang sama.

Kami – saya, Dhata, Adam, Rina, Astri, Fay, dan Iya – berangkat bersama dengan dua mobil dari kampus sekitar pukul 10 pagi. Jarak dari kampus ke lokasi wisata sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun karena jalan akses menuju kesana agak macet, kami sampai di sana sekitar jam 12 siang. Lokasi yang pertama kami kunjungi adalah Kawah Putih. Dalam perjalanan menuju ke Kawah Putih banyak dijumpai penjual buah strawberry dan kami berhenti dahulu di salah satu tempat yang menjual buah strawberry. Di sana kami memetik sendiri buah strawberry yang akan kami beli. Asik juga bisa memetik sendiri buah strawberry dan bisa langsung mencicipinya di sana. Rasanya cukup manis. Kami membeli dua kotak – masing-masing kotak beratnya 6 ons – untuk masing-masing mobil satu kotak.

Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, kabut di Kawah Putih masih cukup tebal. Beruntung saya membawa jaket yang cukup tebal karena suhu udara di sana lumayan dingin. Begitu tiba di lokasi parkir Kawah Putih kami langsung membeli jagung bakar. Karena suhu udara yang dingin saya pun membeli bajigur sebagai penghangat tubuh. Sedap sekali makan jagung bakar sambil minum bajigur di tengah suhu udara yang dingin.

Setelah selesai makan jagung bakar dan sholat dhuhur, kami turun menuju ke lokasi kawah putih – meskipun warnanya tidak benar-benar putih tetapi agak kehijauan – dengan berjalan kaki. Kawahnya mirip dengan yang ada di Tangkuban Perahu. Namun di sini kita bisa melihatnya dari dekat. Kawahnya cukup indah sehingga banyak orang yang mengabadikan gambarnya di sana. Kami pun tidak lupa mengabadikan gambar kami bersama di sana.

Puas melihat pemandangan dan berfoto bersama, kami kembali ke tempat parker untuk mencari makan siang. Selesai makan siang kami melanjutkan perjalanan menuju ke Situ Patengan. Saya penasaran sekali dengan tempat ini. Saya pernah melihatnya di acara salah satu televise swasta yang menayangkan tentang lokasi-lokasi wisata yang ada di Indonesia. Saya ingin melihat danau yang berada di daerah pegunungan.

Jarak dari Kawah Putih ke Situ Patengan sebenarnya tidak terlalu jauh. Dengan perjalanan menggunakan mobil bekecepatan sedang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit. Kami tiba di Situ Patengan sekitar jam setengah empat sore. Danaunya sangat indah, mirip dengan danau yang ada di Bedugul, Bali. Ketika tiba di sana kami “disambut” dengan hujan rintik-rintik, membuat suhu udara semakin dingin. Seperti bisaa, kami pun langsung mengabadikan gambar kami dengan background danau yang indah.

Tanpa menunggu waktu lama, kami beranjak menuju ke tepi danau yang di sana telah berjajar beberapa perahu yang disewakan untuk para pengunjung. Setelah tawar-menawar dengan tukang perahu dan sepakat dengan harganya, kami menyewa salah satu perahu yang dapat kami gunakan untuk menyeberangi danau hingga ke “pulau” yang ada di tengah danau. Di sana sendiri terdapat sebuah legenda yang menceritakan asal-muasal terbentuknya danau, “pulau” di tengah danau dan sebuah batu yang disebut dengan “batu cinta”. Saya tidak tahu apakah benar legenda tersebut atau hanya sekedar cerita belaka. Namun tidak bisa dipungkiri tempatnya memang sangat indah dan sejuk.

Selesai naik perahu, kami mencari mushola untuk sholat ashar. Mushola di sini relative lebih bersih daripada di Kawah Putih. Kami di Situ Patengan hanya sekitar satu jam, karena selesai sholat ashar ketika waktu menunjukkan pukul setengah lima sore kami memutuskan untuk kembali ke Bandung, agar ketika sampai di Bandung tidak terlalu malam mengingat waktu perjalanan ke Bandung cukup lama. Sebenarnya saya masih ingin menikmati keindahan alam Situ Patengan lebiha lama lagi. Tetapi karena ketika kami tiba di sana sudah sore hari, kami pun tidak bisa berlama-lama di sana. Mungkin untuk kunjungan yang kedua kalinya – semoga masih diberi kesempatan untuk ke sana lagi – harus direncanakan supaya waktu tiba di Situ Patengan siang hari sehingga bisa lebih lama di sana.

Weekend kemarin merupakan weekend yang menyenangkan. Meskipun waktu pergi bertamasya saya masih terkena flu, sakitnya tidak terasa karena terkalahkan oleh kesenangan menikmati keindahan alam. Terima kasih buat teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk bertamasya bersama. Suatu saat nanti kita pergi bertamasya bersama lagi.

Labels:

Wednesday, August 23, 2006

Berkumpul Bersama (Lagi)

Setelah sekian lama akhirnya long weekend datang lagi. Bahkan mungkin lebih lama dari long weekend biasanya, karena long weekend kemarin liburnya sampai lima hari. Lumayan juga untuk berlibur terutama bagi orang yang sudah bekerja. Oleh karena itu long weekend kemarin saya putuskan untuk pulang kampung, sekaligus untuk bertemu dengan keluarga.

Ketika berada di sana sebenarnya tidak ada yang special kecuali mungkin kemeriahan peringatan hari kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus, yang biasanya diisi dengan berbagai perlombaan dan karnaval. Untuk perlombaan biasanya diadakan sejak sebelum tanggal 17 Agustus sedangkan untuk karnaval biasanya dilaksanakan satu atau dua hari sesudahnya.

Liburan kemarin benar – benar saya menfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga di rumah karena sekarang (saya) sudah jarang berkumpul dengan keluarga dan ketika berkumpul pun tidak bisa lama, berbeda ketika waktu kuliah dahulu. Ketika masih kuliah liburnya bisa sampai dua pekan untuk libur semester ganjil dan bisa sampai dua bulan untuk libur semester genap. Sedangkan sekarang paling lama mungkin hanya satu pekan saja, kecuali jika mengambil cuti. Jadi kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga jadi lebih singkat.

Meskipun tidak ada yang special, namun saya merasa bahagia karena masih diberi kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga kembali. Bagi saya berada di lingkungan orang – orang yang kita sayangi dan menyayangi kita dapat menambah semangat hidup tersendiri. Setidaknya kehadiran kita tetap diharapkan oleh mereka dan dengan kehadiran kita dapat menambah kebahagiaan bersama. Cinta mereka kepada kita begitu tulus. Begitu juga sebaliknya. Memang tidak ada cinta yang lebih tulus daripada cinta dari dan untuk keluarga.

Labels:

Monday, April 17, 2006

Rail Trip

Perjalanan ke luar kota menggunakan kereta api selalu menyenangkan bagi saya. Menurut saya kereta api merupakan alat transportasi darat yang paling nyaman dibandingkan dengan alat transportasi darat lainnya. Sejak kecil saya suka sekali naik kereta api jika akan bepergian ke luar kota. Apalagi jika perjalannya pada siang hari, saya bisa melihat pemandangan di kanan dan kiri kereta api berupa hamparan sawah yang sangat indah atau bukit – bukit yang menghijau. Tentu saja ada juga pemukiman kumuh di sekitar rel kereta api, yang membuat pemandangan menjadi tidak indah lagi.

Dalam tulisan ini, saya akan bercerita tentang perjalanan saya menggunakan kereta api ketika pulang ke rumah pada long weekend kemarin. Long weekend kemarin merupakan long weekend ketiga secara berturut-turut, dimulai pada tanggal 30 Maret – 2 April 2006, berikutnya 8 – 10 April 2006, dan terakhir kemarin 14 – 16 April 2006. Berhubung long weekend, -biasanya banyak orang yang pulang juga seperti saya- saya memesan tiket kereta api jauh hari sebelumnya. Khawatir tidak mendapatkan tiket kereta api, saya langsung beli tiket terusan untuk pulang pergi.

Dari Bandung kereta api berangkat tanggal 13 April 2006 pukul 20.10 WIB. Alhamdulillah kereta berangkat tepat pada waktunya. Hari itu saya pulang dari kantor lebih cepat 15 menit, disamping untuk menghindari macet, juga agar cukup waktu untuk mempersiapkan barang – barang yang akan saya bawa pulang, karena saya belum sempat mempersiapkannya pada pagi hari atau malam sebelumnya. Dari kost saya berangkat ke stasiun sekitar pukul 19.00 WIB, dengan diiringi hujan rintik – rintik.

Dalam perjalanan kereta api lancar – lancar saja, namun ada sesuatu yang membuat saya sedikit kecewa, karena seharusnya hal tersebut tidak terjadi untuk kereta kelas eksekutif. Ketika saya pergi ke toilet, ternyata kunci pintunya macet, dan tidak bisa dikunci dengan baik. Kemudian saya melihat dua ekor (anak) kecoa berjalan – jalan di bawah tempat duduk. Kita tahu bahwa hewan tersebut identik dengan tempat kotor, karena habitat mereka memang di tempat – tempat yang kotor. Dengan kehadiran hewan tersebut saya beranggapan bahwa kebersihan gerbong kereta tersebut masih kurang kalau tidak mau dibilang kotor. Sekali lagi hal tersebut seharusnya tidak terjadi untuk kereta kelas ekesekutif. Jika kereta kelas eksekutif saja pelayanan dan kebersihannya seperti itu, bagaimana untuk kereta kelas bisnis, atau bahkan kereta ekonomi. Jujur saja, saya belum pernah naik kereta kelas ekonomi, kalau kelas bisnis lumayan sering. Jika saya lihat -kereta kelas ekonomi ketika berhenti di stasiun- bayangan saya adalah berdesak – desakan, panas, kotor, pokoknya tidak nyaman. Meskipun demikian masih banyak peminat jasa angkutan kereta api karena tarifnya yang relatif lebih murah, -padahal sekarang tarif pesawat sudah ada yang lebih murah dari kereta api- dan mungkin lebih me-rakyat. Seharusnya itu tanggung jawab PT. KAI sebagai operator dan pemerintah sebagai regulator untuk memperbaiki pelayanan terhadap para penumpang. Apalagi beberapa hari yang lalu terjadi tabrakan kereta api (lagi) antara kereta api Sembrani dengan Kertajaya di dekat stasiun Gubug, Grobogan, Jawa Tengah. Meskipun penyebab kecelakaan sampai sekarang belum diketahui secara pasti -apakah kesalahan teknis, atau human error- itu juga menjadi PR bagi kedua insitusi tersebut. Mereka seharusnya belajar dari peristiwa – peristiwa sebelumnya, agar kecelakaan serupa -yang dapat merenggut korban jiwa- tidak terulang dikemudian hari.

Karena hari Senin tanggal 17 April 2006 saya harus masuk kerja kembali, saya kembali ke Bandung dengan naik kereta yang sama pada hari Minggu tanggal 16 April 2006. Kereta seharusnya berangkat menuju Bandung pukul 21.52 WIB, tetapi kereta baru berangkat pukul 23.30 WIB. Keterlambatan ini mungkin disebabkan belum pulihnya jalur kereta pantura karena kecelakaan yang terjadi sebelumnya. Ternyata (gerbong) kereta yang saya naiki ketika akan kembali ke Bandung sama dengan (gerbong) kereta yang saya naiki ketika saya pulang. Kejadian seperti yang saya ceritakan di atas terjadi kembali, hu hu hu… betapa menyedihkannya.

Ada beberapa peristiwa yang terjadi selama perjalanan kembali ke Bandung. Ketika menunggu kereta api Harina -ini adalah nama kereta yang saya tumpangi- di stasiun Pekalongan, ada rombongan orang yang berbadan tegap dengan potongan rambut cepak -jumlahnya lebih dari 10 orang- turun dari kereta Kamandanu, kereta eksekutif jurusan Semarang – Jakarta. Jika dilihat dari ciri – ciri fisiknya dapat dipastikan mereka adalah tentara. Tak lama kemudian turun pula beberapa aparat keamanan kereta api. Mereka berkumpul di depan ruang kendali stasiun dan sepertinya sedang melakukan negosiasi. Saya tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi karena saya hanya mengamati mereka dari kejauhan. Kereta Kamandanu pun akhirnya menunggu mereka selesai bernegosiasi. Namun ada salah seorang penumpang kereta Kamandanu yang turun dan meminta kepada kondektur kereta agar segera menjalankan keretanya jika memang jadwal kereta seharusnya sudah berangkat. Benar juga kata penumpang tersebut, masak demi segelintir orang tersebut harus mengorbankan banyak orang.

Setelah kereta Kamandanu berangkat, saya masih penasaran ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ketika saya mendekati salah seorang petugas stasiun untuk menanyakan peristiwa tersebut, petugas tersebut malah pergi, hu hu hu… Kalau dilihat dari cara mereka bernegosiasi, sepertinya rombongan orang yang berbadan tegap dan berambut cepak tersebut adalah penumpang tanpa tiket. Saya melihat mereka mengeluarkan uang bersama – sama, namun akhirnya mereka tidak jadi meneruskan perjalanan menggunakan kereta Kamandanu. Aduh mas – mas, jangan mentang – mentang Anda tentara lalu naik kereta tanpa tiket seenaknya, apalagi naik kereta eksekutif. Inget mas, masih banyak saudara – saudara kita yang naik kereta bisnis pun tidak mampu. Anda sebagai pelindung negara seharusnya memberi contoh yang baik.

Ketika di atas kereta saya kembali menyaksikan peristiwa lainnya. Waktu itu menunjukkan pukul 03.40 WIB. Seharusnya kereta sudah tiba di stasiun Bandung, namun karena keterlambatan keberangkatan kereta pun terlambat tiba di stasiun Bandung. Karena sebentar lagi azan subuh akan berkumandang, saya segera bangun menuju gerbong restorasi untuk memesan nasi goring dan teh manis. Saat saya akan memesan nasi goreng dan teh manis tersebut, di dalam gerbong restorasi terdapat dua orang penumpang yaitu, laki – laki (kakak) dan perempuan (adik) yang sedang marah – marah (kakak) kepada kondektur kereta. Waktu itu kereta sedang berada di stasiun Cikampek. Sang kakak marah – marah karena si adik yang seharusnya turun di Cirebon -sang kakak turun di stasiun Bandung- tidak dibangunkan oleh petugas kereta api untuk turun di stasiun Cirebon. Sang kakak minta kepada kondektur kereta bagaimana caranya agar si adik dapat kembali ke Cirebon tanpa harus membayar lagi. Perdebatan berlangsung cukup sengit, karena kedua belah pihak saling ngotot. Untung saja tidak sampai terjadi adu otot. Saya tidak tahu pasti bagaimana kesepakatan mereka bersama karena saat itu saya sedang menunggu makanan pesanan saya.

Memang biasanya jika ada penumpang yang akan turun bukan di stasiun pemberhentian terakhir, ada petugas yang membangunkan penumpang yang tidur -maklum perjalanan malam hari- jika sudah mendekati stasiun tempat dimana penumpang tersebut akan turun. Bagaimana pun, dalam hal ini petugas dalam posisi yang salah karena mereka harus memberikan pelayanan yang sebaik – baiknya kepada penumpang. Mungkin ini bias menjadi bahan pembelajaran bagi para petugas kereta api agar memberikan pelayanan yang sebaik mungkin.

Alhamdulillah kereta tiba di stasiun Bandung pukul 05.30 WIB dengan selamat. Jadwal tersebut terlambat 2 jam dari jadwal seharusnya. Bagaimana ini PT. KAI, katanya mau meningkatkan mutu pelayanan kepada penumpang, koq jadwalnya masih suka molor. Kapan ya, jadwal kereta api bisa selalu tepat waktu? Mungkin ini sudah budaya orang Indonesia yang terkenal -bahkan sampai ke luar negeri- dengan jam karetnya. Meskipun terlambat tetapi masih cukup waktu untuk masuk ke kantor tepat waktu meskipun dengan mata agak sedikit ngantuk.

-sekian-

Ps: maaf, kalau ceritanya terlalu panjang.


Labels:


 

Sejak 13 Februari 2006, Anda pengunjung ke: