Sebuah Refleksi Diri

Monday, September 22, 2008

A New Hope

Beberapa waktu yang lalu saya sempat putus asa dengan kelanjutan tesis saya. Waktu itu gara-garanya synthesizer yang akan digunakan dalam SFCWGPR tidak bisa diprogram. Seharusnya synthesizer-nya bisa diprogram untuk menghasilkan sinyal dengan frekuensi tertentu sesuai dengan yang diperintahkan. Synthesizer ini juga bisa dijalankan dalam mode sweep dengan rentang dari 600 MHz hingga 1700 MHz. Setelah beberapa kali pengetesan, baru hari ini synthesizer-nya bisa diprogram.

Pada pengetesan pertama gagal karena tegangan dari voltage regulator-nya turun menjadi 3.6 volt yang seharusnya 5 volt. Padahal sebelum dikenai beban tegangannya 5 volt, tapi setelah dikenai beban tegangannya turun menjadi sekitar 3.6 volt. Penurunan tegangan ini disebabkan oleh IC voltage regulator yang kurang bagus. Voltage regulator yang bagus tegangannya tidak boleh turun meski sudah diberi beban dengan arus yang sesuai. Dari datasheet synthesizer, arus yang dibutuhkan masih dalam batas kemampuan IC tersebut, sehingga seharusnya tegangannya tidak turun ketika diberi beban. Tegangan 3.6 volt tidak cukup sehingga synthesizer tidak bisa diprogram karena pll-nya tidak mau nge-lock. Solusi dari masalah ini adalah dengan membuat voltage regulator yang baru dengan IC yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Namun karena kebutuhan power supply DC 5 volt cukup mendesak, maka solusi sementaranya adalah dengan menggunakan power supply DC portable.

Dengan menggunakan power supply DC potable, saya melakukan pengetesan yang kedua. Pada awalnya sempat berhasil. Saya sudah gembira waktu itu karena synthesizer-nya sudah bisa diprogram. Namun pada akhir-akhir pengetesan, power supply DC-nya diganti dengan yang lebih jadul punya lab. Radar (power supply DC sebelumnya milik lab. Devais dan Pemrosesan IC). Petaka terjadi ketika menggunakan power supply DC milik lab. Radar. Tiba-tiba saja tegangan dari power supply DC naik melebihi 5 volt. Saya langsung panic, dan power supply-nya saya matikan. Yang kepikiran waktu itu adalah chip synthesizer-nya bakal jebol. Dan dugaan saya benar, setelah kembali dicoba dengan power supply DC yang pertama, synthesizer rusak. Synthesizer-nya tidak bisa diprogram lagi karena tidak bisa nge-lock lagi meskipun tegangannya sudah 5 volt. Hal ini dapat dilihat pada tegangan lock detector. Tegangan lock detector akan high jika pll sudah lock, dan akan low jika tidak lock. Sempat down lagi gara-gara kejadian ini.

Namun untungnya waktu membeli evaluation board waktu itu, dibeli juga 2 chip baru yang bisa untuk menggantikan chip yang rusak. Tapi ternyata kaki-kakinya agak sulit jika disolder secara manual menggunakan solder konvensional. Saya harus mencari tukang solder yang bisa menyoldernya. Akhirnya saya menemukan tukang solder yang bisa menyolder chip tersebut di Bandung Electronic Center (BEC) Bandung. Sempat ragu juga dengan kemampuan mereka. Namun setelah melihat hasil solderannya jadi optimis lagi.

Hari jumat kemarin saya melakukan pengetesan yang ketiga. Ternyata tukang solder-nya bisa diandalkan juga. Synthesizer-nya sudah bisa diprogram lagi. Akan tetapi masalah masih belum mau pergi begitu saja. Ternyata sekarang synthesizer-nya hanya mau diprogram untuk mengeluarkan sinya dengan frekuensi 1200 -1800 MHz. Padahal seharunya adalah 600-1700 MHz. Duuuh… kenapa lagi ini? Akhirnya saya mencoba menghubungi perusahaan synergy yang kebetulan sebagai pembuat synthesizer tersebut. Setelah beberapa kali email saya kirimkan ke mereka, diperoleh sebuah solusi. Saya mulai berdoa semoga solusi tersebut berhasil sehingga saya bisa memprogram synthesizer untuk mengeluarkan sinyal dengan frekuensi 600-1700 MHz.

Hari ini saya mencoba lagi untuk pengetesan yang keempat. Setelah semua peralatan terangkai dengan benar, saya langsung mencoba cara yang diberikan oleh David P. Lashinsky, salah seorang dari synergy corp. Ternyata solusi yang disarankan olehnya belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Synthesizer belum bisa diprogram untuk mengeluarkan sinyal di bawah 1200 MHz. Setelah beberapa kali mengutak-atik software-nya, akhirnya synthesizer-nya bisa mengeluarkan sinyal dengan frekuensi 600-1700 MHz. Sebenernya ada unsure ketidaksengajaan juga ketika saya menemukan caranya. Mungkin memang sudah diberikan jalan oleh-Nya bahwa dengan terus berusaha insya Allah pasti ada jalan keluar. Dan Alhamdulillah jalannya sudah ditemukan.


Meskipun synthesizer-nya sudah bisa mengeluarkan sinyal dengan frekuensi 600-1700 MHz, muncul beberapa masalah baru yaitu:

  • Bagaimana cara mem-program synthesizer menggunakan microcontroller. (sambil ngelirik Adam)
  • Bagaimana cara menghilangkan frekuensi harmonic dari synthesizer yang selisihnya dengan sinyal utama hanya sekitar 6 dB. (kalau yang ini blm tau solusinya)

Meskipun masih ada beberapa masalah tersebut di atas, namun setidaknya sudah menambah kepercayaan diri saya untuk meneruska tesis ini dan memulai untuk menuli paper. Semangat!!!

Labels: ,

Saturday, July 05, 2008

Telcotalks Edisi Juli 2008

Saat ini, teknologi baru bermunculan dan saling berkompetisi untuk memenuhi layanan kecepatan tinggi : 4G. HSPA+, LTE, dan WiMAX merupakan standar teknologi yang sedang hangat dibicarakan. Bagaimanakah perbandingan kemampuan riil, kelemahan, keuntungan dan kerugian masing-masing standar teknologi tersebut? Dan teknologi manakah yang akan mendominasi pasar telekomunikasi mobile di masa yang akan datang?

3GPP menspesifikasikan LTE sebagai solusi terbaik untuk menjawab tantangan komunikasi mobile kecepatan tinggi di masa yang akan datang. Namun, apakah LTE benar-benar memiliki performansi tinggi dan mampu mendominasi pemenuhan layanan komunikasi mobile masa depan?

TelcotalksTM bekerja sama dengan PT. LAPI ITB akan mengadakan kegiatan pada tanggal 24-25 Juli 2008 di hotel Holliday Inn, Bandung. Tema yang diangkat kali ini adalah THE DYNAMICS OF INDONESIAN TELCO COMPETITION 2008 : RETAIL AND WHOLESALE BUSINESS dan THE DYNAMICS OF INDONESIAN TELCO COMPETITION 2008 : RETAIL AND WHOLESALE BUSINESS. Untuk informasi lebih lanjut bisa dilihat di sini.

Labels:

Wednesday, July 02, 2008

Frequency Synthesizer

Hari senin kemarin saya dapet "mainan" baru dari dosen pembimbing saya. "Mainan" ini sebenarnya saya sendiri yang mengusulkan untuk dibeli sebagai salah satu cara untuk lebih memahami cara kerjanya. "Mainan" ini namanya frequency synthesizer. Dalam pembeliannya termasuk kabel data dan CD yang berisi manual dan software. Frekuensi kerjanya dari 600 MHz hingga 1700 MHz yang memang sesuai dengan frekuensi kerja Stepped Frequency Continuous Wave Ground Penetrating Radar (SFCW-GPR) yang akan dibuat. Riset ini merupakan kerja sama antara Laboratorium Telekomunikasi Radio dan Gelombang Mikro (LTRGM) ITB dengan TU Delft melalui International Research Center for Telecommunication and Radar (IRCTR).

Tujuan dari riset ini adalah menghasilkan suatu prototype SFCW-GPR transceiver 600-1700 MHz. Frequency synthesizer ini hanya salah satu bagian dari transceiver. Namun demikian, frequency synthesizer merupakan salah satu bagian yang paling penting karena bagian ini yang akan menghasilkan stepped frequency. Frequency synthesizer diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan frekuensi keluaran yang berubah secara random antara 600 dan 1700 MHz. Pengaturannya menggunakan micro controller. Untuk menjamin bahwa frequency synthesizer-nya dapat diprogram sehingga menghasilkan frekuensi yang berubah secara random untuk durasi waktu tertentu, saya memohon kepada dosen pembimbing saya untuk membeli evaluation boardnya terlebih dahulu sebelum nanti kita membuatnya sendiri, sekaligus untuk mengetahui perilaku dari frequency synthesizer tersebut.



Untuk frequency synthesizer-nya sendiri belum sempat saya oprek karena masih ada hal lain yang harus dikerjakan. Rencananya beberapa hari kedepan ini saya akan mencoba untuk meng"oprek"nya karena sebelum saya menerimanya saya sudah diultimatum oleh dosen saya tersebut untuk fokus dulu meng"oprek"nya. Disamping itu prototype transceiver-nya harus sudah jadi pada akhir tahun ini. Semoga tidak butuh waktu lama untuk memahaminya.

Labels:

Sunday, March 30, 2008

Sebuah gambar lebih bermakna daripada ribuan kata-kata

Dalam memahami sesuatu kadang kita lebih mudah menggunakan visualisasi gambar daripada dengan penjelasan kata-kata yang sangat panjang. Untuk menjelaskan perambatan gelombang elektromagnetik untuk medan jauh akan lebih mudah jika menggunakan sebuah gambar 3 dimensi daripada menggunakan persamaan Helmholtz.

Untuk mengajarkan kepada anak kecil untuk berhitung juga akan lebih mudah menggunakan media gambar daripada tulisan. Karena anak kecil lebih cepat menangkap informasi dari sebuah gambar daripada sebuah tulisan. Saat ini banyak sekali media pembelajaran untuk anak-anak yang dibuat dengan menggunakan media gambar seperti buku mewarnai yang didalamnya disertai dengan belajar berhitung, atau media interaktif menggunakan PC. Tidak jauh berbeda jika kita bandingkan antara menonton film dengan membaca novel. Dengan membaca novel kita bias menghabiskan waktu beberapa jam atau bahkan bias beberapa hari. Sedangkan dengan menonton film kita hanya butuh waktu sekitar dua jam untuk memahami isi sebuah novel yang difilmkan.

Dan ternyata, dari teori informasi sebuah gambar memang memiliki informasi yang lebih besar daripada ribuan kata. Hal ini dapat dilihat pada contoh berikut.

Gambar dengan resolusi 1024x768 pixel, setiap pixel mempunyai kemungkinan 65.536 warna. Sehingga total ada 655361024x768 = 216x1024x768 = 12582912 kemungkinan gambar dengan peluang yang sama. Maka self information I(p) = log2(12582912) = 12582912 bits.

Seseorang mempunyai perbendaharaan kata (kamus) sebanyak 10.000 kata. Jika dia akan berkata secara acak sebanyak 1000 kata, peluang suatu perkataan berisi deretan 1000 kata dari kamus 10.000 kata adalah 100001000. Maka self information yang diperoleh dari perkataan tersebut I(p) = log2(100001000) = 1000log2(10000) ≈ 14.000 bits.

Dari kedua contoh di atas dapat dilihat bahwa sebuah gambar memiliki nilai informasi yang lebih besar daripada seribu kata-kata.

Labels:

Saturday, December 29, 2007

Siapakah Penemu Telepon?

Sebuah buku yang berjudul "The Telephone Gambit: Chasing Alexander Graham Bell's Secret" karya seorang jurnalis yang bernama Seth Shulman cukup menghentakkan dunia. Buku tersebut menyebutkan bahwa Alexander Graham Bell yang selama ini kita kenal sebagai penemu telepon dituduh telah mencuri ide dari rivalnya sesama ilmuwan dari Amerika, yaitu Elisha Gray.

Buku tersebut mengungkit sebuah jurnal atau catatan penelitian Bell yang selama ini selalu berusaha disembunyikan dari publik oleh keluarga Bell hingga 1976, yang akhirnya dapat tersebar luas berkat bantuan teknologi digital.

Jurnal tersebut memaparkan secara rinci usaha Bell dan Thomas Watson, asistennya, untuk mentransmisi suara lewat kabel secara elektromagnetik pada 1876. Setelah percobaannya gagal, Bell pergi ke kantor hak paten di Washington untuk menanyakan secara detail hak paten milik Gray.

Tidak lama kemudian, Bell menemukan jenis transmiter lain (prototip dari telepon) yang diyakini mirip dengan ide Gray, termasuk bagan kasar orang yang sedang berbicara di telepon.

Kecurigaan lainnya muncul ketika di persidangan tahun 1878 untuk mengungkap penemu telepon sejati, Bell kebingungan memberikan pernyataan dan gugup saat diminta mendemonstrasikan perangkat telepon di hadapan Elisha Gray.

Sebelumnya pada tahun 1860,
Johann Philipp Reis, seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman telah menemukan sebuah piranti telepon, walaupun piranti tersebut memiliki prinsip kerja yang berbeda. Ironisnya hingga kini banyak orang yang masih menyakini bahwa Alexander Graham Bell adalah Bapak penemu telepon.

Kongres Amerika Serikat telah mengeluarkan resolusi untuk meredakan kontroversi ini dengan menyatakan bahwa penemu telepon sebenarnya adalah Antonio Meucci, warga Italia, bukan Philipp Reis, Bell atau pun Gray.

Labels:

Tuesday, September 04, 2007

Inikah Kapitalisme?


Astro goes to campus.

Tanya kenapa???

Labels:

Monday, August 06, 2007

Russian to English

Beberapa hari yang lalu saya masuk ke forum edaboard. Ini merupakan salah satu forum yang sering saya kunjungi setiap hari karena banyak informasi yang saya peroleh dari forum ini terutama tentang RF. Sebenarnya forum ini tidak hanya melulu tentang RF tetapi juga ada tentang Application Specific Integrated Circuit (ASIC), microcontroller, Digital Signal Processing (DSP), embedded system, network, communication system, dan masih banyak lagi.

Waktu itu saya tertarik dengan judul topik
SRD sub-nanosecond pulse generator. Saya tertarik dengan topik tersebut karena saya ingin tau lebih banyak tentang SRD pulse generator yang insyaAllah berhubungan dengan tesis saya nanti *halah padahal baru masuk udah ngomongin tesis*. Di sana ada seorang anggota yang memberikan link tentang SRD pulse generator. Namun setelah saya buka link tersebut ternyata berbahasa Rusia. Karena saya tidak mengerti bahasa Rusia, saya meminta kepada orang yang memberikan link tersebut untuk mentranslate-nya ke bahasa Inggris.

Sebelum orang yang saya minta mentranslate tersebut muncul orang lain lagi yang memberikan link ini yang bisa digunakan untuk men-translate artikel dari beberapa bahasa seperti Cina, Jepang, Korea, Belanda, Perancis, German, Yunani, Italia, Spanyol, Portugal, dan Rusia ke dalam bahasa Inggris dan sebaliknya. Tadinya saya agak ragu juga dengan layanan ini. Tapi setelah saya coba ternyata berhasil. Bahkan bisa men-translate satu halaman web penuh ke dalam bahasa Inggris. Saya coba mengcopy-paste halaman web yang dalam bahasa Rusia tadi. tidak lama kemudian muncul halaman baru dalam bahasa Inggris. It's great!!! Meskipun demikian gambar-gambar yang dalam bahasa Rusia tidak berubah, masih tetap dalam bahasa Rusia. It's OK, at least artikelnya sudah bisa dibaca :D

Labels:

Monday, August 28, 2006

Ketika Pluto Harus Keluar

Tulisan ini bertujuan selain untuk menambah wawasan kita tentang alam semesta ini juga untuk membantu Depdiknas dalam menyebarkan info mengenai dikeluarkannya planet Pluto dari sistem tata surya kita.

Dulu, ketika saya masih duduk di bangku sekolah bahkan hingga selesai kuliah S1, dalam literatur dikatakan bahwa dalam sistem tata surya kita terdapat sembilan planet yang mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya. Kesembilan planet tersebut adalah Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Itu adalah jumlah planet sebelum tanggal 24 Agustus 2006.

Sejak tanggal tersebut planet Pluto resmi dikeluarkan dari sistem tata surya kita. Keputusan itu diambil oleh sebuah perkumpulan Pekerja Astronomi Internasional (IAU) dalam sebuah pertemuan di Praha, Rep. Ceko, Kamis (24/8/2006). Dalam keputusannya bahwa akan dibenahi kembali buku – buku mata pelajaran sekolah dan dibentuk ulang suatu ide mengenai topografi angkasa.

Alasan dikeluarkannya planet Pluto dari sistem tata surya kita adalah Pluto tidak memiliki jalur orbit yang jelas dan bersih, meski ukurannya cukup besar dan mengorbit pada matahari. Sekarang Pluto digolongkan sebagai planet kerdil.

Informasi ini cukup penting karena ini termasuk pengetahuan yang harus kita ketahui bersama. Jangan sampai kita salah mengatakan bahwa jumlah planet dalam sistem tata surya saat ini adalah sembilan planet termasuk Pluto, sedangkan sekarang Pluto sudah dikeluarkan dari sistem tata surya. Sebelum buku – buku mata pelajaran direvisi, para pendidik seharusnya memberitahukan kepada murid – muridnya tentang informasi ini. Karena jangan sampai memberikan informasi yang salah dalam pendidikan.

Informasi saat ini memang sangat cepat menyebar. Namun kita tahu kondisi di Indonesia seperti apa. Meskipun beritanya sudah pernah disiarkan melalui televisi mungkin juga berbagi media cetak, namun saya yakin belum semua orang mengetahuinya. Bagi sebagian orang mungkin informasi ini tidak penting. Namun bagi orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan tentu saja informasi ini sangat penting, karena ini bagian dari ilmu pengetahuan. Jadi, jika kita ditanya berapa jumlah planet dalam sistem tata surya, kita tidak akan menjawabnya dengan sembilan lagi namun delapan.

Untuk sebagian orang informasi ini mungkin saja tidak ada artinya. Baik Pluto termasuk dalam sistem tata surya maupun tidak hal tersebut tidak akan berpengaruh terhadap mereka. Namun bagi saya semua ilmu pengetahuan itu penting dan tidak ada ruginya untuk mengetahuinya.

Labels:

Friday, April 28, 2006

Information and Communication Technology

Tren teknologi informasi dan komunikasi (ICT) pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua yaitu layanan voice dan data. Untuk layanan voice yang saat ini sebagian besar menggunakan PSTN dan telepon seluler (GSM maupun CDMA), tren ke depannya adalah menuju ke teknologi VoIP. Saat ini teknologi VoIP masih diterapkan pada PSTN, meskipun tidak menutup kemungkinan diterapkan juga pada telepon seluler. Saat ini beberapa vendor telekomunikasi sedang melakukan riset tersebut. Untuk layanan data saat ini sebagian besar masih menggunakan jaringan telepon tetap maupun wireless dengan GPRS dan fixed wireless dengan Wi Fi. Tren ke depannya adalah teknologi fixed wireless broadband biasanya disebut dengan WiMAX dimana jangkauan dan kapasitasnya lebih besar daripada Wi Fi. Sedangkan untuk layanan data melalui telepon seluler (mobile), tren kedepannya adalah layanan 3G bahkan bisa dikembangkan lagi menjadi 4G.

Jika mengacu pada tren ICT seperti di atas, maka teknologi ICT yang dapat diterapkan pada negara berkembang adalah –kalau dapat saya katakan- semua tren ICT di atas dapat diterapkan di negara berkembang. Karena pada dasarnya semua teknologi dapat diterapkan dimana saja apalagi teknologi ICT. Hanya saja penerapannya tergantung pada kebijakan pemerintah negara yang bersangkutan dan masyarakatnya. Jika pemerintah tidak (belum) mengizinkan adanya teknologi tersebut, maka teknologi tersebut tidak diterapkan dengan baik. Seperti penggunaan VoIP di Indonesia yang belum mendapat kepastian hukum sehingga penggunaannya masih sedikit bahkan cenderung sembunyi – sembunyi. Hal ini dapat terjadi karena belum adanya regulasi tentang penggunaan teknologi VoIP di Indonesia. Selain VoIP, penerapan teknologi yang belum dapat diwujudkan dengan baik adalah layanan 3G. Sebenarnya baik vendor, operator, dan regulator telah siap untuk meluncurkan teknologi tersebut. Namun melihat kondisi masyarakat bangsa Indonesia seperti sekarang ini –bukannya pesimis- sepertinya tidak (belum) akan berhasil untuk beberapa waktu ke depan. Hal ini dapat dilihat dari contoh kasus MMS. Ketika SMS lintas operator dibuka, jumlah trafik SMS langsung tinggi dan menjadi salah satu pundi – pundi uang bagi operator. Namun hal ini tidak terjadi pada MMS, meskipun MMS lintas operator sudah dibuka. MMS tidak se-booming SMS. Jadi untuk menerapkan sebuah teknologi baru di sebuah negara berkembang harus diperhatikan juga kondisi masyarakatnya.

Manfaat ICT di Indonesia saat ini baru dapat dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di kotakota besar saja. Bahkan untuk masuk ke dunia maya (internet) mereka harus pergi ke warnet –jika tidak mempunyai akses dari rumah- yang waktu aksesnya cukup lama karena bandwidth dibagi – bagi dan harganya lumayan mahal. Untuk beberapa perguruan tinggi negeri seperti ITB misalnya untuk melakukan akses ke internet cukup mudah dengan adanya layanan dari AI3. Namun untuk perguruan tinggi lain belum tentu bernasib sama seperti ITB. Padahal jaringan internet dapat membantu mahasiswa untuk mendapatkan berbagai informasi yang bisa menunjang program belajar mengajar di kampus. Jika di kotakota besar internet sudah dapat diakses dengan mudah, namun hal ini tidak berlaku bagi kota kecil apalagi pedesaan di Indonesia. Ketimpangan ini mungkin yang menyebabkan kotakota kecil maupun pedesaan belum mampu mengikuti kemajuan perkotaan. Padahal teknologi informasi berperan dalam meningkatkan kemajuan masyarakat. Saya belum menemukan sumber yang dapat dipercaya mengenai persentase pengguna layanan internet antara penduduk di kota besar dan penduduk di kota kecil dan pedesaan.

Berbeda dengan layanan internet yang sebagian besar hanya baru bisa dinikmati oleh masyarakat di kotakota besar, layanan telepon khususnya telepon selular saat ini sudah menembus hingga ke pelosok – pelosok desa di Indonesia. Kalau dulu jika kita pergi keluar kota sering tidak mendapatkan sinyal, saat ini sampai ke desa – desa pun sinyalnya masih cukup kuat. Hal ini mungkin disebabkan karena pertumbuhan pelanggan telepon seluler yang sangat cepat sehingga mendorong para operator berani untuk membangun BTSBTS hingga ke desa – desa. Semoga setelah adanya teknologi WiMAX layanan internet bisa masuk desa juga.

Mengingat wilayah Indonesia yang luas, berpenduduk banyak dan sebagian besar masih tinggal di daerah pedesaan, penerapan dan pemerataan penggunaan ICT di Indonesia mutlak diperlukan. Salah satu faktor yang mendorong penggunaan ICT di Indonesia adalah bahwa ICT dapat menjadi katalisator pertumbuhan sosial ekonomi. Apalagi saat ini kondisi perekonomian di Indonesia belum dapat dikatakan baik. Semoga dengan pemanfaatan ICT di Indonesia dapat mempercepat pemulihan perekonomian negara kita.

Jika melihat tren ICT di dunia dan negara berkembang, ICT di Indonesia tidak akan jauh – jauh dari tren ICT di Eropa dan Asia. Penguasaan teknologi yang masih kurang oleh bangsa Indonesia, menyebabkan Indonesia hanya menjadi pasar bagi berbagai produk baru dari negara – negara maju. Indonesia hanya mengikuti tren yang terjadi di negara – negara produsen. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa untuk kedepannya ICT di Indonesia akan seperti yang lainnya yaitu VoIP, layanan 3G untuk mobile –ini bisa berkembang menjadi 4G- dan WiMAX untuk fixed wireless broadband.


-dari berbagai sumber-

Labels:


 

Sejak 13 Februari 2006, Anda pengunjung ke: