Sebuah Refleksi Diri

Tuesday, October 21, 2008

Bisi bisi ah... bisi bisi loh...

Sepertinya banyak sekali yang harus dikerjakan dalam beberapa hari ke depan. Ada UTS, kerjaan, dan tentunya tesis. Dua pekan setelah libur lebaran ternyata sudah masuk pekan UTS :-o Padahal materinya masih banyak yang belum selesai. Semoga UTS nya lancar meski sampe sekarang waktu belajarnya belum optimal karena masih ada yang harus diselesaikan. Kerjaan juga harus beres pekan ini karena sudah dikerjar deadline. Dosen pembimbing juga sudah beberapa kali menagih paper tesis. Seandainya sehari 100 jam mungkin semuanya bisa selesai pekan ini. Tapi sayang, jatahnya cuma 24 jam sehari. Itu pun digunakan untuk hal-hal lain juga yang kadang malah menimbulkan masalah. Besok sudah hari Rabu. Artinya pekan ini tinggal 3 hari lagi. Dan kemungkinan UTS-nya hari Jumat tanggal 24 Oktober 2008. Mudah-mudahan kerjaan sudah selesai semuanya besok sehingga bisa fokus ke UTS. Pertanyaannya: Bisa nggak ya???

Labels:

Saturday, August 30, 2008

The Secret

Ada pepatah mengatakan "Dalamnya hati orang siapa yang tau?"

Ya,akhirnya saya baru mengetahuinya hari ini. Ternyata selama ini apa yang saya harapkan sama dengan yang dia harapkan. Untungnya dulu saya sempet tidak menuruti kemauannya. Kalau saya turuti kemauannya waktu itu ntah seperti apa jadinya saat ini. Mungkin memang sudah jalannya seperti ini. Semoga tetap bisa menjaga amanah itu dan terus bersabar.


Labels:

Wednesday, August 20, 2008

Semangat!!!

Setelah melewati hari-hari yang melelahkan akhirnya saya bisa memasuki awal kuliah dengan lebih baik. Beberapa hari kemarin benar-benar terasa berat bagi saya. Semoga semuanya bisa selesai semester ini. Sempet pede di semester kemarin bahwa saya bisa selesai kuliah semester ini, tetapi setelah synthesizer-nya ngambek dan ada pergantian kurikulum sepertinya saya pesimis jika bisa selesai semester ini. Jangan sedih ya... Mohon dukungan dan doanya aja *hehehe*

Sebenarnya ada yang membuat saya tambah semangat hari ini. Semangat untuk kuliah dan kerja. Ternyata tadi pagi salah satu permintaan saya akhirnya dikabulkan. Makasih ya...


Maaf, kalo selama ini udah sering nyusahin kamu :)

Labels:

Thursday, August 14, 2008

Salah Ngomong

Ternyata dibutuhkan kesabaran untuk menghadapi seorang perempuan yang sedang sensitif. Salah ngomong bisa berakibat fatal. Hari ini saya hanya mencoba untuk jujur. Maksudnya dengan bicara jujur itu supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Saya jadi merasa bersalah.

Katanya sih hanya waktunya aja yang tidak tepat. Ya, saya bilangnya ketika hormon estrogen-nya sedang meningkat. Jadi aja langsung ngambek :-o Jadi jelek kalo lagi ngambek :p. Tapi sekarang sudah normal kembali kok *senangnya*. Fiuhh... Lumayan capek juga mencoba untuk membuatnya kembali tersenyum :)

Labels:

Saturday, August 09, 2008

Hmmm...

Hari ini disuruh nunggu dulu dan ngobrolnya cuma sebentar :(

Katanya ada yang mau ikutan tapi ternyata malah nggak muncul (lagi) :-o

Labels:

Tuesday, August 05, 2008

Panik

Kemarin malam adalah saat-saat dimana saya merasakan kepanikan yang luar biasa. Bagaimana tidak, dompet yang biasanya saya bawa di saku celana belakang ternyata tidak ada! Dan saya baru sadar ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Saya kembali mengingat-ingat kemana saja seharian itu. Seingat saya, kemarin itu saya dari kos ke kampus (PAU), kemudian di Salman hingga ba'da maghrib. Setelah sholat maghrib di masjid Salman saya makan malam di bakmi jawa bersama dosen dan teman saya. Saya berangkat ke bakmi jawa (makanan favorit dosen saya *hihi*) ikut mobil dosen saya dan pulangnya saya ikut mobil teman saya.

Selama makan di sana tidak ada perasaan yang mencurigakan. Selama pulang dari makan malam, selama di perjalanan saya asik ngobrol dengan teman saya. Hingga akhirnya berhenti di belakang kampus ITB karena bensinnya habis *dooh*. Selagi menunggu adik teman saya membeli bensin untuk mobilnya yang mogok, saya dan teman saya memutuskan untuk sholat isya terlebih dahulu di PAU. Nah ketika mau sholat ini lah saya baru sadar bahwa dompet saya sudah tidak ada lagi di saku celana belakang. Yang semakin membuat saya panik adalah di dompet saya terdapat KTP,SIM,STNK,KTM,kartu ATM dan surat-surat berharga lainnya. Seandainya benar-benar hilang, betapa repotnya saya. Saya harus mengurus surat kehilangan di kepolisian, mengurus KTP, SIM, dkk., memblokir kartu ATM. Membayangkannya saja sudah bikin puyeng. Mencoba untuk tidak terlalu panik, saya mencoba telpon dosen saya, menanyakan apakah dompet saya terjatuh di mobilnya. Setelah diperiksa ternyata dompet saya tidak ada di sana. Kemudian saya coba telpon teman saya yang mobilnya kehabisan bensin itu. Setelah saya tanyakan, ternyata hasilnya sama saja. Dompet saya tidak terjatuh di mobil teman saya. *semakin panik*


Melihat lokasi-lokasi yang saya kunjungi seperti yang saya jelaskan di atas, kemungkinan terbesarnya adalah memang terjatuh di mobil dosen saya atau mobil teman saya. Namun setelah mengecek keduanya ternyata juga tidak ada, kemungkinan terakhir adalah tertinggal di kos, alias saya lupa membawa dompet hari itu.


Akhirnya saya tidak jadi sholat isya di PAU, dan kebetulan mobil teman saya sudah bisa jalan lagi, saya memutuskan untuk langsung pulang ke kos. Selama perjalanan menuju kos, saya terus berdoa semoga
feeling saya benar yaitu dompet saya benar-benar tertinggal di kos. Tiba di halaman kos, saya langsung lari menuju kamar. Ketika saya cek di tempat tidur (biasanya saya meletakkan dompet di atas tempat tidur ketika akan terjadi pergantian celana panjang *hayah*) ternyata tidak ada. Yang ada hanya charger hp. Saat itu saya langsung lemas, ternyata feeling saya salah *hiks*. Saya mencoba untuk tenang kembali. Berpikir kembali dimana saya meletakkan dompet pagi itu. Setelah saya coba cari-cari lagi ternyata dompet saya ada di atas lemari buku. Alhamdulillah, dompet saya sudah kembali. Leganya malam itu. Setelah itu sholat isya dan akhirnya bisa tidur dengan nyenyak *zzzzzzzzz*.

Labels:

Saturday, July 26, 2008

Ujian I

Alhamdulillah ujian pertama sudah terlewati. Semoga menjadi pembuka jalan untuk selanjutnya.

Labels:

Wednesday, July 09, 2008

Serak

Hari ini suara saya tiba-tiba serak dan hampir hilang. Sebelumnya pada hari jumat malam tenggorokan saya terasa sakit. Hari sabtunya kepala mulai pusing, saya pikir hanya masuk angin biasa. Oleh karena itu saya hanya minum jamu saja. Ternyata hari minggunya sakitnya bertambah dengan hidung yang mulai mampet dan bersin-bersin. Dan akhirnya saya kena flu. Biasanya jika saya kena flu itu karena kurang istirahat, dan salah satu cara penyembuhannya dengan istirahat yang cukup. Namun demikian karena kebetulan lagi ada kerjaan istirahat saya menjadi berkurang sehingga flu-nya belum sembuh juga. Dan kemarin akhirnya ditambah lagi dengan batuk. Cukup tersiksa juga dengan batuknya. Selain tenggorokan jadi tambah sakit, komunikasi juga jadi terganggu. Semoga sakit ini menjadi pelebur dosa-dosa saya. Amin...

Labels:

Saturday, December 15, 2007

Kecewa (lagi)

Hari Kamis, tanggal 13 Desember 2007 kemarin saya (baca: tim antenna UWB) mendapat undangan dari ditjen postel untuk mempresentasikan hasil penelitian kami selama 4 bulan terakhir di hotel Salak, Bogor. Dari semua peserta rapat yang hadir, sepertinya saya yang paling muda yang memberikan presentasi. Sebagian besar yang hadir adalah dosen dan peneliti dari beberapa lembaga seperti LIPI, dan PT. INTI. Saya terpaksa yang presentasi di sana karena peneliti utama kami tidak bisa hadir. Sempat merasa deg-degan juga sebelum maju untuk presentasi, karena sebelumnya belum pernah saya presentasi di depan para pejabat dan orang-orang penting lainnya. Terakhir presentasi di depan orang banyak ketika konferensi internasional TSSA tanggal 6-7 Desember 2007. Namun setelah maju dan mulai presentasi semuanya jadi biasa-biasa saja. Apalagi ketika masuk sesi tanya jawab, pertanyaannya tidak lebih sulit dari pertanyaan siding tugas akhir *hehehe…*.

Namun demikian ada kekecewaan yang muncul dari pelaksanaan acara itu. Sebelum acara selesai kami sempat dijanjikan oleh salah satu staf ditjen postel yang mengatakan bahwa honor dan SPJ akan dibayarkan pada hari itu juga. Akhirnya kami yang mendapat giliran presentasi sesi pertama (pkl 10.00 – 12.00) rela menunggu hingga berakhirnya acara pada sore hari. Setelah ditunggu hingga sore hari ternyata apa yang kami harapkan tak kunjung dating. Mereka kembali bilang bahwa nanti honor dan SPJ-nya akan dikirimkan ke masing-masing orang. Padahal seandainya diberitahu sejak awal bahwa demikian kami tidak akan menunggu hingga sore hari. Setelah selesai presentasi dan mengisi beberapa form isian, kami bisa langsung kembali ke Bandung.

Kekecewaan ini merupakan bukan yang pertama, tetapi sudah untuk yang kesekian kalinya. Beberapa hal yang membuat kami kecewa terhadap ditjen postel:

1. Di proposal terdapat biaya untuk membeli bahan habis pakai dan ATK. Namun setelah proposal disetujui, biaya untuk membeli bahan habis pakai dan ATK diubah tidak lagi sama dengan yang ada di proposal tetapi di pukul rata masing-masing Rp 5 juta rupiah. Memahami akan kondisi keuangan Negara, akhirnya kami semua setuju.

2. Pada tanggal 15 November 2007, kami mendapat undangan untuk hadir ke Jakarta untuk menyampaikan laporan dan berkas-berkas untuk penagihan honor dan sebagainya. Pada saat itu kami diberitahu lagi bahwa biaya bahan habis pakai dan ATK tidak dapat diklaim lagi lagi mereka sudah tidak memiliki dana. Kata mereka dananya sudah banyak tersalurkan untuk program top down, sedangkan penelitian kami ini adalah yang bottom up.

3. Urusan administrasinya berbelit-belit dan tidak jelas. Mungkin karena mereka belum punya banyak pengalaman untuk urusan riset. Tahun ini merupakan tahun pertama ditjen postel memberikan dana penelitian.

Melihat kondisi seperti ini saya merasa prihatin. Wajar saja jika penelitian di Indonesia tidak dapat berjalan dengan baik. Orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk mengelola dana penelitian ternyata belum sesuai dengan yang diharapkan. Hal seperti ini juga terjadi pada KNRT dan bahkan di ITB sendiri. Semoga ke depannya lembaga itu diisi oleh orang-orang yang berkompeten sehingga penelitian di Indonesia akan semakin maju.

Labels:

Tuesday, July 17, 2007

Stupid

Kalau ada orang yang layak untuk dibenci saat ini adalah mungkin diriku sendiri. Aku benci dengan diriku sendiri. Dengan kebodohan - kebodohan yang aku lakukan selama ini. Meskipun pernah kesal dengan orang - orang di sekitarku, namun itu akibat kesalahanku sendiri. Aku pun tak bisa menyalahkan orang lain itu. Semoga kesalahan - kesalahanku selama ini tidak terulang lagi.

Labels:

Thursday, July 05, 2007

Transformasi Fourier

Sejak beberapa hari yang lalu dengan terpaksa saya harus buka buku-buku jaman kuliah dulu. Huhuhu... Ya, saya harus baca-baca lagi karena sudah banyak yang saya lupa. Atau memang sudah lupa semua ya? Behubung terakhir kali baca buku kuliah 2 tahun yang lalu.

Ada beberapa mata kuliah yang harus saya pelajari lagi sesuai dengan kisi-kisi yang diberikan oleh departemen sebagai bahan ujian hari jumat besok tgl 6 Juli 2007. Kisi-kisi yang harus dipelajari antara lain Rangkaian Listrik, Teori Medan dan Gelombang Elektromagnetik, Elektronika Komunikasi, Jaringan Telekomunikasi, Sistem Komunikasi, Rekayasa Trafik, Antena dan Propagasi, dan Pengolahan Sinyal Digital.


Fiuhhh..., saya harus belajar lagi tentang hukum Ohm, Kirchoff, Ampere, Faraday, Maxwell, dll. Mungkin yang paling susah adalah hukum Maxwell. Tidak perlu dijelaskan di sini seperti apa wujud dari hukum Maxwell, saya sendiri pusing untuk membayangkannya. Selain itu saya harus belajar lagi tentang transformasi z dan transformasi Fourier. Saya benar-benar sudah lupa dengan kedua jenis transformasi itu, meski banyak sekali aplikasinya dalam dunia nyata. Belum lagi antena dan propagasi, yang waktu kuliah dulu banyak sekali mahasiswa ikut kuiz dapet nilai 0 (nol). Hingga dosennya bilang "
Tukang becak saya bawa ke sini (tempat kuiz), saya suruh mengerjakan soal ini juga akan dapet 0 (nol) juga." Aduh pak, please deh jangan samakan kami dengan tukang becak. Arghhh, susah kali untuk menguasai semuanya dalam waktu 1 minggu.

Tapi bagaimana pun juga, ujian besok harus saya lewati untuk proses berikutnya. Semoga saja soalnya tidak terlalu sulit dan dosennya baik-baik :D Realistis saja, semua materi itu tidak mungkin saya kuasai sepenuhnya. Belum lagi ada agenda-agenda lain. Seperti hari ini saya harus pergi ke bank untuk mentrasfer sejumlah uang ke luar negeri *hiks*. Sudah dulu soalnya saya harus ke bank sekarang.


ps: mohon doanya.

Labels:

Monday, June 11, 2007

Rencana Pekan ini

Hingga dua pekan ke depan, saya masih disibukkan dengan beberapa urusan administrasi. Saya sendiri agak kurang bersemangat jika berurusan dengan hal - hal seperti ini. Namun demi kepentingan saya sendiri mau tidak mau harus saya lakukan.

Pekan ini proposal riset insentif harus sudah selesai karena batas akhir penyerahannya tanggal 18 Juni 2007. Semoga saja proposalnya disetujui sehingga dapet dana untuk melakukan riset tentang UWB-GPR. Jika risetnya berhasil semoga kita bisa memiliki teknologi UWB dan GPR sendiri yang selama ini belum kita kuasai. Dengan keberhasilan riset ini juga diharapkan terwujudnya kemandirian bangsa dalam teknologi tersebut.


Pekan depan saya harus segera menyelesaikan urusan administrasi pendaftaran S2 karena batas waktu pendaftaran tanggal 22 Juni 2007. Mengingat ini demi masa depan saya, maka semua ini harus selesai tepat pada waktunya.

Labels:

Wednesday, April 11, 2007

Bukan Hanya Sekedar Mimpi

Beberapa malam terakhir sebelum aku pindahan (lagi), aku mendapatkan sebuah mimpi. Mimpi yang saya harapkan bukan hanya sekedar mimpi, namun bisa menjadi kenyataan. Seandainya itu hanya sekedar mimpi, ingin rasanya kuteruskan mimpi itu dan tak mau aku terbangun olehnya.

Dalam mimpi itu aku merasakan bahwa aku benar-benar menjadi seorang laki-laki yang sesungguhnya. Mungkin juga itu merupakan impian bagi setiap laki-laki. Ketika seorang laki-laki menjadi pelindung bagi orang yang dicintainya. Ketika seorang perempuan merasa nyaman ketika berada di dekatnya. Ketika dia selalu ada pada saat dibutuhkan. Ketika seorang laki-laki bersedia memberikan segalanya demi orang yang disayanginya.

Saat itu dia begitu dekat denganku. Bahkan hal ini belum pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Sulit untuk membayangkan apa yang terjadi saat itu. Dia tahu bagaimana memperlakukan seorang laki-laki dengan sewajarnya. Aku pun berusaha untuk memperlakukannya sebagaimana dia ingin diperlakukan olehku. Dia begitu baik dan cerdas. Dia cukup sempurna bagiku.

Aku tak tahu apa makna dari semua itu. Semoga bukan hanya sekedar mimpi belaka. Semoga bukan keinginan alam bawah sadarku saja. Apakah ini petunjuk dari-Mu? Jika memang benar dia ya Allah, maka dekatkanlah. Namun jika bukan dia maka jauhkanlah. Engkau maha mengetahui.

Labels:

Thursday, January 11, 2007

Ruangan 3x2 Meter Persegi

Sudah cukup lama saya tidak meng-update blog ini. Bukannya tidak mau meng-update lagi, tapi dikarenakan satu dan lain hal, saya belum sempat untuk meng-update-nya. Melalui postingan pertama di tahun 2007 ini saya akan mencoba untuk “menghidupkan” kembali blog ini.

Saat ini, tanggal 11 Januari 2007, merupakan hari keempat bagi saya untuk menempati tempat baru. Kotanya masih sama di Bandung. Untuk jenis pekerjaan yang dilakukan, tidak jauh berbeda dengan yang saya lakukan sebelumnya, yaitu riset. Mungkin jenis riset yang dilakukan saja yang sedikit berbeda, namun tetap tidak jauh-jauh dari dunia RF.

Di tempat yang baru ini, saya bersama tiga orang lainnya menempati sebuah ruangan yang berukuran kurang lebih 3x2 meter persegi. Cukup sempit memang, apalagi untuk ditempati oleh empat orang, dan diisi dengan beberapa meja dan lemari. Banyak benda berserakan di lantai seperti tas, bola, papan tulis, dan juga tempat tidur. Meja-mejanya dipenuhi dengan berbagai barang seperti komponen, buku, kertas, gelas, plastic, dan masih banyak lagi. Kondisi ini membuat ruangan menjadi tambah sumpek. Sebenarnya ruangan ini mungkin lebih cocok untuk ruangan mengerjakan tugas akhir. Dengan kondisi seperti itu, saya jadi teringat masa-masa ketika saya mengerjakan tugas akhir. Meskipun demikian untuk melakukan riset seperti yang akan kami lakukan, ruangan tersebut sudah cukup karena koneksi internet di sini sudah tidak lambat lagi. Sangat berbeda dengan koneksi internet ketika saya mengerjakan tugas akhir dahulu.

Apa yang saya alami saat ini tidak lepas dari takdir-Nya. Sebagai manusia saya hanya bisa berusaha dan berdoa, namun Allah lah yang menentukan hasilnya. Dia lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya, meskipun menurut kita itu bukan yang terbaik untuk kita. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 216 yang artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Dari tempat baru ini saya berharap dapat mempelajari lebih banyak lagi hal yang selama ini belum sempat saya pelajari pada waktu kuliah dahulu. Semoga apa yang akan saya pelajari nanti berguna bagi masa depan dan karier saya. Dan dari tempat ini semoga saya mendapatkan apa yang menjadi impian saya selama ini, yang selalu hadir dalam doa saya setiap selesai sholat. Semoga Allah yang maha mendengar mengabulkan doa saya. Amien.

Labels:

Monday, October 02, 2006

Look Alike

Beberapa waktu yang lalu teman saya bilang kepada saya bahwa di kampus ada seseorang yang mirip dengan "dia". Waktu itu saya sempat tidak percaya, masak sih ada orang yang mirip banget dengan orang itu. Saya menganggap teman saya itu hanya mengada-ada saja. Namun tanpa sengaja, ketika kami (saya dan beberapa teman kuliah dulu) kumpul bersama di kampus tepatnya di LPKM untuk membahas tentang acara buka bersama, saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Dan ternyata benar apa kata teman saya waktu itu. Seseorang itu benar-benar mirip sekali dengannya. Dari wajah dan senyumnya sangat mirip sekali. Subhanallah!!! Saya pun sempat kaget ketika pertama kali melihatnya. Seandainya dia mengikuti acara ASAL yang dulu pernah ditayangkan oleh salah satu TV swasta nasional -tidak tahu sekarang masih ada apa tidak- saya yakin dia akan menjadi pemenangnya.

Dari sini saya berpikir, apakah benar setiap orang memiliki kembaran di dunia ini? -orang yang terlahir kembar dalam hal ini tidak termasuk- Karena yang saya maksud di sini adalah kembar dengan orang lain yang tidak ada hubungan darah sama sekali. Saya berpikir demikian karena beberapa waktu sebelumnya, ketika teman saya yang bekerja di salah satu perusahaan multinasional datang ke mess saya, dia bilang bahwa teman saya yang satu mess dengan saya mirip dengan rekan kerjanya di perusahaan dia bekerja. Dan ada cerita-cerita lain yang mengatakan bahwa seseorang mirip dengan seseorang yang lain.

Sepulang dari kampus saya kembali berpikir "Koq ada ya orang yang mirip dengannya?" :-?

Labels:

Tuesday, September 26, 2006

Tanda dan Bukti Cinta

Cinta. Sebuah kata yang sangat misterius. Satu kata yang sangat menarik untuk dibicarakan. Yang di dalamnya penuh dengan berbagai perasaan, seperti kasih sayang, pengharapan, penghargaan, persaudaraan, dan kemuliaan. Kemunculannya tidak dapat kita duga sebelumnya. Ia merupakan salah satu anugerah yang Allah berikan kepada manusia yang membuat hidup ini menjadi lebih indah.

Akan tetapi cinta itu sendiri merupakan sesuatu yang abstrak. Sangat sulit bagi kita untuk menjelaskan arti cinta. Memang mudah bagi kita untuk mengatakan cinta, namun apa yang kita ucapkan belum tentu sesuai dengan apa yang kita lakukan.

Jika arti cinta itu sendiri sangat sulit untuk dijelaskan, kita dapat melihatnya dari tanda-tanda dan bukti jika kita benar-benar memiliki cinta. Ibnu Qoyyim Al Jauziah menyebutkan ada 20 tanda dan bukti cinta:

1. Menghujamkan pandangan mata.
Pandangan mata seorang pecinta itu hanya tertuju pada orang yang dicintai.

2. Malu-malu.
Jika orang yang dicintai memandangnya, maka dari itu didapati seorang pecinta hanya bisa memandang kebawah, kepermukaan tanah, disebabkan rasa sungkannya terhadap orang yang dicintainya.

3. Banyak mengingat orang yang dicintai.
Membicarakan dan menyebut namanya.

4. Tunduk kepada perintah orang yang dicintai dan mendahulukannya daripada kepentingan diri sendiri.

5. Bersabar menghadapi gangguan orang yang dicintai, yaitu bersabar dalam menghadapi kedurhakaan dan bersabar dalam melaksanakan keputusan orang yang dicintai.

6. Memperhatikan perkataan orang yang dicintai dan mendengarkannya.

7. Mencintai tempat dan rumah sang kekasih.

8. Segera menghampiri yang dicintai, kesibukan yang lain ditinggalkan dan menyukai apapun jalan yang bisa mendekatkan dirinya dengan orang yang dicintai.

9. Mencintai apa pun yang dicintai sang kekasih.

10. Jalan yang terasa pendek -padahal panjang- saat mengunjungi sang kekasih.

11. Salah tingkah jika sedang mengunjungi orang yang dicintai atau sedang dikunjungi orang yang dicintai.

12. Kaget dan gregetan tatkala berhadapan dengan orang yang dicintai atau tatkala mendengar namanya disebut.

13. Cemburu kepada orang yang dicintai, cemburunya akan bangkit jika kekasihnya dijahati dan dirampas haknya.

14. Berkorban apa saja untuk mendapatkan keridhaan orang yang dicintai.

15. Menyenangi apa pun yang membuat senang orang yang dicintai.

16. Suka menyendiri.

17. Tunduk dan patuh kepada orang yang dicintai.

18. Helaan nafas yang panjang dan sering.

19. Menghindari hal-hal yang merenggangkan hubungan dengan yang dicintai dan membuatnya marah.

20. Adanya Kecocokan antara orang yang mencintai dan yang dicintai


Jika tanda dan bukti cinta itu telah ada maka yang perlu dipertanyakan adalah ditujukan untuk siapakah perasaan cinta itu?

Labels:

Thursday, September 21, 2006

I've Got Mail

Sudah satu pekan lebih sejak saya menerima email itu saya belum pernah lagi membuka mozilla thunderbird untuk sekedar mengecek email yang masuk. Namun ketika saya diberitahu oleh teman sekantor bahwa atasan kami mengirim email kepada kami dan harus segera membalas isi email tersebut. Dengan masuknya email tersebut, mau tidak mau saya harus membuka mozilla thunderbird untuk membaca dan membalas email yang dimaksud. Setelah saya membukanya ternyata email serupa yang saya terima satu pekan kemarin tidak ada lagi *hihihi*. I'm lucky.

Sebenarnya tidak ada yang aneh dari email yang saya terima waktu itu (12/9/2006), karena teman saya yang lain juga menerima email yang sama. Namun saya belum bisa menerima dengan isi email yang kedua. Mungkin karena waktu itu saya belum mempunyai jawaban yang "tepat".

Email yang saya terima pada tanggal 12/9/2006 tersebut merupakan imbas dari apa yang saya lakukan satu hari sebelumnya. Sebenarnya ada beberapa alasan yang membuat saya "berani" untuk mengambil keputusan tersebut. Pertama, hal itu merupakan sebuah kesempatan. Ya, menurut saya kesempatan tersebut harus saya manfaatkan dengan baik. Seperti kata teman saya waktu itu via YM yang mengatakan bahwa jika saya tidak mengambil kesempatan tersebut saya akan menyesal untuk waktu yang cukup lama. Mungkin kesempatan yang sama akan muncul di lain waktu, namun siapa yang dapat menjamin bahwa kesempatan itu akan muncul lagi? Tidak ada!

Kedua, saya berasumsi bahwa saya tidak akan menerima "email" seperti di atas. Dengan asumsi tersebut saya dapat mengambil kesempatan tersebut dengan "aman". Karena selama ini saya belum pernah melihat atau mendengar orang lain mendapat "email" tersebut. Dan ternyata asumsi saya tersebut salah. Saya menduga ada faktor lain yang menyebabkan saya -dan rekan saya yang lain- akhirnya menerima "email" itu. Semoga hal ini tidak terulang lagi di lain waktu.

Labels:

Thursday, August 31, 2006

Bimbang

Ketika kita dilahirkan ke dunia ini kita tidak dapat memilih siapa orang tua kita. Karena siapa yang akan menjadi orang tua kita itu adalah ketetapan Allah. Kita hanya dapat menerimanya saja. Jika kita dapat memilih siapa orang tua kita tentu saja kita akan memilih orang tua kita itu adalah seorang presiden, atau seorang jenderal, atau seorang pengusaha yang kaya raya. Setidaknya kita tidak hidup menderita di bawah kolong jembatan.

Namun seiring berjalannya waktu, ketika kita bertambah dewasa banyak sekali pilihan – pilihan hidup menghadang di depan kita. Karena hidup ini memang pilihan. Kita bukan robot yang hanya mengerjakan sesuai dengan apa yang diperintahkan. Kita manusia yang mempunyai akal dan pikiran. Kita memiliki kemampuan untuk berfikir dan menentukan mana yang seharusnya kita lakukan. Dan tentunya itu adalah yang terbaik untuk kita.

Tidak jarang kita dihadapkan pada dua pilihan yang keduanya menurut kita sama baiknya. Tetapi kita harus memilih salah satunya. Bagi saya menentukan satu pilihan diantara dua pilihan tersebut termasuk pekerjaan yang “menguras” tenaga dan pikiran. Karena saya bukan peramal yang mengetahui apa yang akan terjadi di masa akan dating seandainya saya memilih salah satunya. Saya hanya bias memperkirakan jika saya memilih pilihan A, saya akan seperti ini. Dan jika saya memilih pilihan B, saya akan seperti itu.

Kita hidup di dunia ini yang penuh dengan ketidakpastian. Kadang apa yang kita perkirakan sebelumnya ternyata tidak terjadi dan yang terjadi justru yang sebaliknya. Akibatnya kita hanya bias menyesali dengan pilihan kita tersebut. Jangan sampai kita menyesal gara – gara pilihan kita sendiri.

Ya Allah, berilah hamba petunjuk-Mu.

Labels:

Tuesday, July 11, 2006

Sebuah Penantian

Menunggu merupakan perbuatan yang sangat membosankan. Seringkali menunggu membuat kita stress, panik, dan melelahkan seperti menunggu kereta api -sudah jadi rahasia umum jika kereta api di Indonesia sering terlambat-, menunggu bus atau angkot ketika akan berangkat ke kampus atau ke tempat kerja karena takut terlambat tiba di tempat tujuan.

Menunggu juga dapat membuat perasaan kita cemas dan khawatir seperti ketika menunggu pengumuman kelulusan UN (ujian nasional) atau menunggu pengumunan kelulusan SPMB. Perasaan serupa juga pasti dirasakan oleh seorang suami ketika menunggu kelahiran anak pertamanya.

Namun kadang kita dihadapkan pada situasi tersebut. Namun bukan menunggu sesuatu seperti yang diceritakan di atas. Menunggu disini mungkin lebih tepat disebut menanti. Meskipun memiliki arti yang sama, namun menggunakan kata menanti lebih tepat dalam hal ini.

Merupakan fitrah manusia bahwa suatu saat akan muncul suatu perasaan dimana kita tertarik pada lawan jenis. Jika masa itu telah tiba, maka babak baru hidup seseorang akan dimulai. Ketertarikan disini tentunya tidak didasarkan hanya pada nafsu semata. Namun semangat untuk mendapatkan pasangan hidup. Dan tentunya dalam proses untuk mendapatkan pasangan hidup tersebut harus dilakukan dengan cara yang benar dengan tidak melanggar batas – batas yang telah disyariatkan oleh agama. Namun ketika sebuah ikatan halal untuk hubungan lawan jenis belum bisa terwujud karena sesuatu hal, maka sebaiknya kita bersabar dan menunggu hingga tiba masanya. Tidak ada cara lain selain itu. Rosulullah dalam sebuah riwayatnya berpesan kepada kita; "Wahai para pemuda! Menikahlah, jika kamu mampu, karena dengan menikah akan lebih menundukan pandangan, dan menjaga kemaluan. Jika kamu tidak mampu, berpuasalah, karena puasa adalah penahan untuknya (syahwat)."(Hadist riwayat Bukhari Muslim)

Aku sendiri termasuk orang yang benci dengan proses menunggu, karena melelahkan dan membosankan. Namun untuk yang satu ini aku bersedia *insyaAllah* menantinya hingga tiba waktu yang tepat. Ya, menunggu seorang bidadari. Bidadari cantik yang sekarang entah berada dimana. Bidadari yang jika kita berada didekatnya akan merasakan kedamaian. Dengan senyumnya akan membuat dunia ini ikut bahagia. Menantinya membuat hati ini dipenuhi dengan berbagai perasaan yang campur aduk menjadi satu. Antara senang dan jemu. Antara benci dan rindu. Antara sedih dan bahagia. Juga disertai perasaan cemas dan khawatir karena belum ada kepastian. Di dunia ini memang tidak ada yang pasti. Semuanya begitu relative dan hanya tentang peluang dan probabilitas. Proses yang dapat kita lakukan hanya bagaimana membuat peluang dan probabilitas kita menjadi lebih besar. Selain itu kita tetap harus berdoa memohon kepada-Nya. Takkan lari gunung dikejar. Seperti salah satu bait dari sebuah lagu lawas yang berjudul OYA ciptaan K3S “Kalau jodoh takkan lari kemana.

Menunggu disini bukanlah menunggu pasif, seperti menunggu jatuhnya emas dari langit. Namun menunggu disini adalah menunggu aktif. Meskipun menunggu namun tetap berikhtiar untuk mendapatkannya. Meskipun jodoh merupakan ketetapan Allah, namun kita harus wajib berusaha untuk menjemputnya. Seperti rezeki, setiap orang sudah mempunyai kadarnya masing – masing. Kita tinggal menjemputnya. Namun jika kita bermalas – malasan maka rezeki tersebut tidak akan datang dengan sendirinya. Kita harus tetap berusaha untuk mencarinya yang disertai dengan doa. Karena dalam hidup ini berlaku hukum sebab akibat (kausalitas). Setiap akibat yang terjadi pada diri kita pasti ada penyebab sebelumnya. Seperti kita kenyang karena makan. Seandainya kita tidak makan maka kita tidak akan merasakan kenyang. Meskipun demikian ketetapan tertinggi tetap milik Allah, karena Allah yang mempunyai hak prerogative terhadap setiap makhluknya. Meskipun kita telah berusaha tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan, itu berarti Allah memiliki ketetapan lain kepada kita. Dan itulah yang dinamakan dengan takdir. Sebagai seorang muslim kita wajib percaya terhadap takdir Allah.

Hidup ini hanya sekali. Dan sebagian besar hidup kita ini mungkin akan kita lewati bersama pasangan hidup kita. Aku berprinsip bahwa daripada mendapatkan yang biasa – biasa saja, lebih baik menunggu untuk mendapatkan yang lebih baik. Karena aku percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi hambanya.

Labels:

Monday, June 26, 2006

Sebuah Keputusan Besar Itu

Hari minggu kemarin, saya pergi untuk mencari toko yang menjual suatu benda. Saya pergi menyusuri jalan Dr. Setiabudi hingga ke jalan Cihampelas -untuk mencari toko yang dimaksud- hingga akhirnya berhenti di sebuah mall yang bernuansa ruang terbuka. Di sana saya menemukan sebuah toko yang saya cari namun ternyata benda yang saya cari tidak saya temukan. Karena perut sudah terasa lapar dan sudah cukup lama juga saya tidak makan gado – gado di sebuah kantin yang terletak di jalan Gelap Nyawang, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke kantin tersebut.

Tiba di kantin, saya langsung memesan gado – gado. Sambil menunggu pesanan, saya memperhatikan keadaan orang – orang di sekeliling saya. Saya melihat sepasang lelaki dan perempuan duduk bersebelahan di sudut kantin. Yang perempuan menggunakan pakaian sopan yang menutup aurat. Saya pikir mereka berdua adalah hanya teman biasa yang sedang makan bersama di kantin tersebut. Tak lama kemudian seorang pelayan kantin mengantarkan gado – gado pesanan saya. Setelah itu saya tidak mempehatikan mereka lagi karena saya sedang asyik menikmati gado – gado.

Ternyata dugaan awal saya sepertinya salah, bahwa mereka adalah teman biasa. Dugaan saya yang kedua adalah bahwa mereka bukanlah sekedar teman biasa namun mereka sepertinya sepasang suami istri. Ya, pasangan muda suami istri. Karena jika dilihat dari umurnya antara 23 – 25 tahun. Saya menduga bahwa mereka adalah sepasang suami istri karena setelah selesai makan di kantin tersebut mereka pulang bersama berboncengan menggunakan sepeda motor. Tampak sekali kemesraan di antara mereka. Dan sepertinya kemesraan itu tidak mungkin terjadi seandainya mereka bukan pasangan suami istri. Itulah sebabnya kenapa saya sampai berani menyimpulkan jika mereka adalah pasangan suami istri.

Mungkin mereka adalah salah satu contoh pasangan muda yang telah mengikrarkan untuk hidup bersama dalam sebuah keluarga. Ketika seseorang mengambil keputusan untuk menikah pada dasarnya dia telah mengambil sebuah keputusan besar. Ya, sebuah keputusan besar karena pernikahan bukan sekedar untuk hidup bersama sebagai suami istri selama 1 hari, 1 bulan, maupun 1 tahun. Namun dengan pernikahan kita akan hidup bersama pasangan hidup kita untuk masa yang lama. Jika kita salah dalam mengambil keputusan besar tersebut, maksud saya salah dalam memilih pasangan, maka penyesalannya juga akan selama itu juga. Meskipun proses ijab qobul –yang sebelumnya melalui proses khitbah- berlangsung hanya dalam hitungan menit, namun tanggung jawabnya adalah seumur hidup.

Namun demikian saya sangat menghargai orang yang telah “berani” untuk mengambil keputusan besar tersebut. Menggenapkan separuh agamanya dan hidup bersama sebagai pasangan suami istri. Memang belum semua orang bisa mengambil keputusan besar tersebut. Mungkin dengan berbagai pertimbangan dia menunda untuk melaksanakan pernikahan. Secara fisik tentu saja sudah siap namun dari segi finansial dan mental mungkin belum siap. Karena untuk menikah saat ini tidak cukup hanya dengan modal cinta saja. Tidak dapat dipungkiri bahwa finansial merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan sebelum menuju ke jenjang pernikahan, meskipun Allah telah menjamin bahwa Dia akan memberikan rezeki dari arah yang tidak terduga kepada pasangan yang memutuskan untuk menikah jika mereka mau berusaha.

Begitu banyak keutamaan menikah seperti menggenapkan separuh agama Allah, mengikuti sunnah rosul, dan menciptakan sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Dari pernikahan dapat dihasilkan generasi – generasi penerus yang akan menegakkan kemuliaan agama Allah di muka bumi ini. Yang akan meneriakkan kebesaran-Nya di segala penjuru. Tanpa dilandasi oleh sebuah ikatan pernikahan mustahil akan dihasilkan pemuda – pemudi sebagai generasi penerus yang tangguh dan siap berkorban demi tegakknya agama Allah di dunia.

Untuk menghasilkan generasi penerus seperti itu tentu diperlukan orang tua yang memiliki visi dan misi serupa. Karena pendidikan awal bagi seorang anak –sebelum mereka masuk jenjang sekolah- adalah keluarga. Keluarga adalah tempat untuk membentuk karakter dasar seorang anak. Dan yang paling berperan dalam hal ini adalah peran seorang ibu. Semua orang tahu bahwa peran seorang ibu sangat besar dalam proses perkembangan jiwa seorang anak. Meskipun peran utama seorang ayah adalah mencari nafkah untuk keluarga, namun perannya juga tidak bisa diabaikan. Sosok seorang ayah tetap diperlukan dalam pembentukan kepribadian seorang anak.

Itulah sebabnya di atas saya telah mengatakan bahwa kita harus hati – hati sebelum memutuskan untuk berumah tangga. Jangan sampai kita seperti memilih kucing dalam karung. Semuanya harus dengan pertimbangan yang matang. Jika kita salah dalam mengambil keputusan, cita – cita berumah tangga seperti yang saya sebutkan di atas akan sulit terwujud.

Allah maha mengetahui apa – apa saja yang terbaik bagi hamba-Nya. Semoga kita diberikan yang terbaik. Ya Allah, jika dia memang yang terbaik untukku menurut kehendak-Mu, maka dekatkanlah kepadaku dan mudahkanlah segala urusanku dengannya. Jika dia bukan yang terbaik untukku, maka jauhkanlah dia dariku dengan baik – baik dan tunjukkan kepadaku yang lebih baik darinya.

ps: Selamat untuk rekan – rekan yang akan menikah dalam waktu dekat ini. Semoga selalu diberi keberkahan dari Allah dan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah serta diberi keturunan yang sholeh dan sholehah. Dan yang belum -termasuk saya- semoga segera “menyusul” kalian semua yang telah menikah lebih dahulu.

Labels:


 

Sejak 13 Februari 2006, Anda pengunjung ke: